
news - 27 Oktober 2017 , Dalam kearifan budaya lokal masyarakat Jawa, memiliki seekor sapi
merupakan salah satu ukuran kemewahan. Bersanding dengan hewan ternak
berkaki empat lainnya seperti kuda, kerbau maupun kambing, memelihara
sapi biasa adalah termasuk 'Rojokoyo’ (Raja kaya).Bandarq
Kearifan tersebut juga dipercaya masyarakat di Desa Sidorejo,
Kecamatan Kemalang, Klaten. Bagi sebagian masyarakat yang hidup di
lereng Gunung Merapi ini, memperlakukan Rojokoyo ternak sapi layaknya
bagian dari keluarga. Kandangnya bisa terletak di ruang tamu, kamar,
bahkan sejajar dengan ruang makan.
Menurut Jenarto, Ketua RT 16/RW 06 Dusun Ngemplak, Desa Sidorejo,
memelihara sapi bak memiliki 'Anjungan Tunai Mandiri (ATM) berjalan'.
Jika terhimpit kebutuhan ekonomi, sapi menjadi dewa penolong. Tidak
mengherankan, warga nekat bertaruh nyawa hanya untuk memberi pakan
ternak yang mereka tinggalkan lantaran mengungsi akibat erupsi Merapi.Maxbet
"Warga gunung kayak kami ini kan jarang mempunyai simpanan uang
(rekening) di bank. Jadi, kalau kepepet kebutuhan sehari-hari atau ada
hajatan besar, ya dijual sapinya. Karena setiap KK di Sidorejo ini
rata-rata punya dua ekor, bahkan ada yang sampai 15 ekor sapi. Makanya
kalau 'simbah batuk' (erupsi Merapi) yang pertama kali diselamatkan
dahulu itu Rojokoyo. Kalau enggak bisa dibawa turun (ke tempat
pengungsian), warga akan kembali naik ke atas untuk memberi pakan
sekaligus ngecek rumah," ujarnya.
Mengingat perlakuan tersebut, warga yang bermukim di kawasan rawan
bencana Merapi ini memiliki warisan leluhur berupa dawetan sapi. Sebuah
tradisi ungkapan rasa syukur atas kelahiran anak sapi atau pedet pada
hari kelima.
Seperti yang terjadi pada hari Kamis (26/10). Membawa pedet Rojokoyo,
warga RT 16/RW 06 Dusun Ngemplak ini berbondong-bondong memenuhi tanah
lapang di kawasan objek wisata Deles Indah. Duduk beralaskan tikar, di
hadapan mereka tersaji tumpeng berisikan nasi jagung, lauk pauk, dan
jadah. Selain itu, minuman dawet khas Bayat juga turut dihidangkan.
Begitu tokoh masyarakat setempat selesai melantunkan doa penuh
pengharapan, makanan tradisional tersebut lantas dimakan bersama-sama
alias kembul bujono. Tak ketinggalan, belasan pedet yang sedari tadi
diikat dan lahap memakan jerami, secara khusus diberikan jamuan dawet
yang diwadahi sebuah ember.AduQ
"Tradisi dawetan sapi ini biasa digelar setiap kali ada ternak yang
melahirkan. Tepat di hari kelima setelah kelahiran, warga membuat
tumpeng dan dawet untuk kembul bujono sebagai ungkapan rasa syukur.
Dawetnya enggak hanya diminum sendiri, namun juga diminumkan ke pedet,"
beber Jenarto, mengenai ihwal tradisi dawetan sapi yang digelar satu
rangkaian pertunjukan kesenian Gora Swara Nusantara.
Tradisi nguri-nguri tersebut juga masih dipertahankan oleh warga
lainnya, Tarso Utomo (65). Pemilik tujuh ekor ternak sapi ini mengaku
baru saja menggelar tradisi dawetan di kediamannya. Bahkan tradisi
tersebut juga akan dilakukan oleh sebagian warga jika hendak menjual
ternak.JudiBola
"Tradisi dawetan sapi masih saya lakukan di rumah. Saya enggak tahu
kapan persisnya ada tradisi ini, tapi yang pasti saya hanya ingin
memelihara apa yang sudah menjadi kebiasaan leluhur kami. Harapannya,
pertumbuhan pedet bisa sehat dan kuat. Kalau betina, bisa menjadi
indukan yang subur," ujarnya.
