Soal rumah DP Rp 0, Anies bilang 'kita ngotot supaya warga terbawa eskalator sosial'

March 11, 2018

Soal rumah DP Rp 0, Anies bilang 'kita ngotot supaya warga terbawa eskalator sosial'




BERITA TERDEPAN - Soal rumah DP Rp 0, Anies bilang 'kita ngotot supaya warga terbawa eskalator sosial' , Sejak menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta sejak pertengahan Oktober 2017 lalu, salah satu program yang mulai dilaksanakan Anies Baswedan dan pasangannya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga S Uno adalah pembangunan rumah dengan DP nol persen. Program ini menuai pro dan kontra di masyarakat karena dinilai tak sesuai janji kampanye.

Anies Baswedan mengatakan ia tetap ngotot terhadap program ini supaya warga Jakarta bisa terbawa eskalator sosial. Ia juga mengklaim program ini sebagai bentuk keberpihakannya kepada rakyat kecil.

"Kenapa kita ngotot dengan program ini? Supaya warga Jakarta terbawa eskalator sosial. Ini eskalator naik ke situ, terbawa ke atas juga. Di Jakarta itu separuh warganya tidak terbawa ke atas. Yang terbawa yang separuh lainnya. Ini kalau dibiarkan, bom waktu. Nampaknya sederhana keberpihakan itu," jelasnya saat hadir di acara silaturahmi dan ramah tamah pengurus Arsil Center di Komplek Perumahan DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (9/3).

Indonesia atau khususnya di Jakarta memiliki masalah ketimpangan sosial. Karena itu pihaknya ingin membangun keberpihakan yang jelas.

"Keberpihakan itu adalah pembeda-pembeda yang sejak masa lalu kita gaungkan. Sebagai contoh, mengapa kita membawa program DP 0 rupiah? Banyak yang menganggap ini sekadar program hunian. Bukan. Karena kan dulu kan programnya rusunawa," kata mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Rusunawa maupun rumah tapak memang memiliki fungsi yang sama. Bedanya rusunawa memiliki biaya sewa bulanan lebih murah dibandingkan biaya kredit rumah.

"Ini soal keberpihakan. Di Jakarta lebih dari sekitar 50 persen penduduknya itu bukan pemilik hunian. Jadi separuh itu kontrak atau nyewa. Sementara Jakarta adalah kota yang harga hunian naik terus," jelasnya.

Ia mengatakan penyewa rusunawa atau yang kredit rumah tapak sama-sama berpenghasilan Rp 7 juta per bulan. Tapi bedanya jika yang kredit nilai asetnya akan meningkat setelah 10 tahun.

"Yang satu sewa rumah, yang satu kredit rumah. Setelah 10 tahun maka asetnya, kekayaannya beda sekali. Yang punya tanah jauh lebih makmur daripada yang tak punya tanah. Yang punya bangunan lebih makmur dari yang tak punya bangunan," tutupnya. 


Previous
Next Post »
0 Komentar